Fokus dan Terus Belajar Tentang Tips dari Situs Judi Bola

Fokus dan Terus Belajar Tentang Tips dari Situs Judi Bola Muda, energik, berbakat, dan bersahaja. Ini yang terlihat dari sosok arsitek muda bernama Fajar Ikhwan Harnomo. Di usianya yang masih belia, pemuda kelahiran Kota Kembang ini kian disibukkan dengan berbagai aktivitas. Dari mulai menekuni profesi sebagai arsitek, mengajar di Jurusan Arsitektur ITENAS Bandung, menjadi pembicara di komunitas arsitek muda, hingga mengulik dunia fotografi arsitektur. Tak heran, jika kalangan arsitek muda di Bandung, kini mulai mengenal sosok dan karyanya. Apalagi, setelah ia menjadi Juara 1 Sayembara Masjid ITB di Jatinangor, Bandung (tahun 2012), eksistensi dirinya sebagai arsitek muda berbakat kian bersinar. Inilah wawancara Tabloid RUMAH dengan Fajar Ikhwan Harnomo seputar harapan dan perjalanannya meningkatkan kemampuan diri dan menginspirasi banyak orang.

Fokus dan Terus Belajar Tentang Tips dari Situs Judi Bola

T: Bagaimana awal ketertarikan Anda dengan dunia arsitektur?
J: Ketertarikan saya terhadap dunia gambar-menggambar ini dimulai ketika saya masih kecil. Kata orang tua, ketika kecil saya termasuk anak bandel karena sering menggambar di dinding rumah. Bakat seni inilah yang mendorong saya untuk menekuni dunia arsitektur. Yang membahagiakan, keluarga juga sangat mendukung.

T: Apa suka duka Anda menjadi arsitek?
J: Menjadi arsitek merupakan hal yang menyenangkan, terutama saat ide kita diapresiasi orang lain. Namun, dalam proses awal terjun ke dunia profesional, saya pernah mengalami rintangan. Saya pernah minder karena sulit meyakinkan biro arsitek untuk bekerja di tempatnya. Sampai akhirnya kesempatan itu datang dan saya memulainya di sebuah konsultan asing bernama GFAB – Gary Fell Architect, di Bali.

T: Karakter karya Anda?
J: Saya menyadari, karakter bisa menjadi bagian penting dalam setiap karya arsitek. Hanya, di usia sekarang ini saya masih menyukai eksplorasi. Yang terpenting saat ini adalah saya sebagai arsitek mampu menyelesaikan setiap permasalahan dan mewujudkan setiap keinginan klien tanpa sepenuhnya mengorbankan sisi idealisme saya. Karena arsitek yang baik harus mampu memecahkan permasalahan yang hadir dengan penyelesaian yang obyektif dan bijak.

T: Melihat perjalan Anda di dunia arsitektur, Anda termasuk giat mengikut sayembara. Apa arti sayembara bagi Anda?
J: Bagi saya, sayembara itu seperti sebuah evaluasi. Pertama, dapat menjadi tolak ukur dalam melihat kemampuan diri sendiri. Kedua, saya bisa mengeksplorasi banyak hal baru yang belum tentu bisa saya tuangkan di dalam sebuah pekerjaan nyata. Ide cenderung out of the box. Jadi, keikutsertaan saya di sayembara menjadi sebuah kepuasan tersendiri, terlebih jika berhasil menjadi juara.

T: Dari sekian banyak keikutsertaan, sayembara apa yang paling berkesan?
J: Sebelum menjawab, saya ingin bercerita sedikit. Awal mulai saya mengenal sayembara ketika saya menjadi bagian dari tim Pak Baskoro Tedjo. Dari situ, saya banyak mempelajari pendekatan desain. Bahkan, pernah meraih juara 1. Untuk sayembara yang paling berkesan adalah Sayembara Masjid ITB Jatinangor Bandung. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT menjadi juara 1. Ada beberapa alasan yang menjadikan sayembara ini sangat berkesan. Namun, yang paling utama adalah saya seperti mendapat suntikan moral. Kepercayaan akan kemampuan desain kian tumbuh di diri saya.

T: Selain menjadi arsitek, mengapa Anda tertarik mengajar?
J: Keinginan mengajar itu tumbuh pada saat saya mulai berbagi pengalaman dengan rekanrekan arsitek lain di beberapa forum diskusi. Ada hal yang menyenangkan ketika kita bisa membagi pengalaman. Saya berharap apa yang saya lakukan bisa memberikan inspirasi bagi sesama, terutama bagi para mahasiswa arsitektur yang saya bimbing. Saya selalu berpedoman bahwa mengamalkan ilmu yang saya punya menjadi bagian dari ibadah.

T: Setahu kami, Anda juga pernah menjadi pembicara Architects Under Big 3. Bisa diceritakan proses terpilihnya?
J: Architects Under Big 3 adalah kegiatan diskusi bulanan yang pembicaranya berusia di bawah 30 tahun. Semua pembicara dilihat dulu CV dan portfolio-nya, apakah layak jadi pembicara atau tidak. Mereka mengundang pembicara tersebut sebagai bagian dari pemaparan pengalaman si pembicara untuk berbagi hal menarik dalam proses karir mereka.

T: Masih adakah aktivitas lain yang Anda geluti?
J: Saya mempunyai hobi fotografi . Hobi fotografi ini saya lakukan ketika saya memiliki waktu senggang. Bagian fotografi yang saya sukai adalah fotografi lansekap dan arsitektur. Bagi saya fotografi juga menjadi bagian treatment pribadi untuk memperkaya “design vocabulary“, sekaligus sebagai rekreasi visual. Hobi ini bisa dibilang mendukung proses kerja saya ketika menjadi arsitek dan pengajar

T: Adakah yang ingin Anda sampaikan kepada para calon arsitek muda?
J: Yakin dengan proses yang sedang dijalani, juga harus percaya diri. Kita harus selalu mau untuk belajar dari hal-hal terkecil, bahkan dari sesuatu yang kita anggap sepele. Seorang CEO sukses pun paham akan hal-hal kecil yang dia pernah kerjakan sebelumnya dalam bidang tersebut. Karena dari hal yang kecil atau sepele inilah letak pembelajarannya.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *