Pertunjukan teater Mini-mini

Menurut Elyda, pentas diawali dengan survei dua bulan sebelumnya. Setelah menemukan lokasi yang pas, tim meminta izin kepada pemilik tambang. Langkah selanjutnya adalah melakukan pendekatan kepada para penambang dan masyarakat sekitar. Agar masyarakat lokal mau menonton, panitia terpaksa ”berbohong” dengan mengatakan pertunjukan yang akan digelar bukan teater, melainkan ludruk modern. Bagi Anwari, sebetulnya pentas langsung di lokasi tambang tersebut cukup dilematis. Aktivitas penambangan sudah pasti merusak alam. Namun, di sisi lain, tambang batu juga merupakan sumber penghidupan mayoritas warga. Selain penambang, ada kuli angkut, sopir, dan pedagang mindahkan realitas itu ke atas panggung. Ia membawa satu pickup batu putih dari Madura ke Malang.

Batu-batu kapur putih itu diletakkan di depan pendapa DKM. Di pendapa juga ditayangkan di layar cuplikan rekaman pentas mereka di Bangkalan. Penonton di Malang bisa membayangkan bagaimana suasana pertunjukan di Madura dan bagaimana alat berat dihadirkan. Sayatan gitar metal disertai tiupan saronen memulai pertunjukan. Paduan antara noise metal dan bunyi kering garang saronen menimbulkan paduan sensasi bunyi yang aneh. Empat aktor berkopiah dan bersarung berlari ke sudut-sudut DKM. Mereka kemudian masuk ke ”kubangan” batu. Mereka menggetarkan kaki. Lalu mulai mengeksplorasi batu-batu. Penggunaan batu sebagai medium utama dalam teater kontemporer kita bukan pertama kali. Yang monumental tentulah pentas Merah Bolong teater Payung Hitam. Pertunjukan itu menggantung batu-batu besar. Batu kemudian diayun-ayunkan kencang. Tubuh para aktor berkelit di sela-sela ayunan batu. Juga ada gerojokan batu kerikil dari atas. Kurang sigap sedikit, tubuh aktor pasti terhantam batu dan terluka.

Selanjutnya, di Jakarta, pernah Teater Ghanta dalam forum Festival Teater Jakarta membawa batu bata ke panggung. Di panggung, mereka menyusun sebuah petak rumah. Masih ada beberapa lainnya, seperti komponis Wayan Sadra (almarhum) dan yang perekonomiannya terbantu. Dari dua aspek itu, Anwari memilih menampilkan kehidupan para penambang ketimbang aspek lingkungan. l l l SUASANA pementasan di Bangkalan yang langsung berada di lokasi penambangan tentu tidak bisa dibawa total tatkala Mini-mini#3 Batu dipentaskan di joglo Dewan Kesenian Malang (DKM), Jawa Timur, pada 4 Juni lalu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *