Delay Relay di ROH Projects

Uniknya, nada-nada yang keluar dari kotak musik itu acak. Tidak membentuk satu irama lagu. Padahal tiap motor penggerak itu diatur untuk ”menyanyikan” lagu seperti Over the Rainbow, Somewhere Out There, hingga Yesterday. Sebab, Bagus telah merancang putaran pelat dan baut secara acak. ”Sekali tersentuh biasanya music box akan memutar lagu utuh. Tapi dalam karya ini sentuhan itu hanya menjadi satu nada. Jadi bunyi yang terdengar akan acak, tergantung baut mana yang menyentuh saklar music box yang mana,” katanya. Bagi Bagus, karya seni tidak hanya bisa diamati dan dinikmati secara visual oleh para pengunjung. Tapi juga sedapat mungkin berinteraksi dengan pengunjung. Interaksi manusia dengan obyek seni itu dirancangnya dalam Xylodisco, karya menyerupai bola lampu disko yang disusun dari potongan xylophone.

Website : kota-bunga.net

Pemukul xylophone disediakan di salah satu dinding agar pengunjung bisa membunyikan karya aneka nada itu. Ada pula karya yang terinspirasi dari barang keseharian. Pada My Daily Synth, Bagus merancang panci yang terhubung dengan synthesizer dan lampu meja. Tiap kali pengunjung memainkan tombol untuk menghidup-matikan lampu, suara akan terdengar dari panci. Karya ini juga menggunakan sensor cahaya. Maka, ketika pengunjung mengintervensi cahaya, suara yang dihasilkan juga akan berubah. Pada Breadman’s Automation, gitar, simbal, dan lampu LED akan berbunyi dan menyala secara otomatis. Pengunjung hanya perlu menyalakan tombol merah untuk merekam kalimat selama 20 detik yang nantinya akan diterjemahkan dengan bunyi alat musik yang terhubung dengan amplifier dan hidup-mati lampu LED.

”Setiap rekaman akan diterjemahkan dengan nada dan nyala lampu yang berbeda,” kata Bagus. Lewat pameran ini, Bagus menunjukkan bahwa karya seni tak hanya bisa dinikmati secara visual, tapi juga menggugah indra pendengaran. Konsep ini tentu terkait dengan minatnya yang besar terhadap musik. Bagus pernah tergabung dalam kelompok musik dan sesekali menjadi disc jockey di acara-acara terbatas. Seniman 30 tahun ini suka mempreteli barang elektronik. Semuanya dipelajari secara otodidaktik. Maka tidak mengherankan bila 90 persen karya dalam pameran ini dikerjakan sendiri selama dua bulan terakhir.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *