Takut Masuk Sekolah

sat-jakarta.com – Dear ibu mayke. Putera saya sekarang 6 tahun, rencana tahun ajaran depan saya akan memasukkannya ke sd. Tetapi akhir-akhir ini, anak saya kerap kali menangis saat pulang dari bermain, dia mengatakan bahwa dia tidak mau masuk sd, maunya tk saja. Setelah saya tanya ternyata teman mainnya yang memang sudah kelas 1-2 sd menakut-nakuti bahwa sd itu pelajarannya susah, gurunya galak. Jadi sekarang si kecil mudah takut kalau mendengar kata sd saja, dia mudah menangis, saat belajar pun kerap kali menangis karena takut. Saya khawatir dengan hal ini, bagaimana menyikapi hal ini agar tidak berlarut-larut dan mengganggu pikiran si kecil? Terima kasih atas jawaban ibu mayke

Baca juga : Kursus IELTS terbaik di Jakarta

Saat ini anak takut masuk SD karena dipengaruhi oleh temannya,b kejadian ini perlu diatasi dengan memberikan pengalaman pada anak bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan. Saya jadi ingin bertanya, apakah pada waktu di TK-nya banyak diberikan kegiatan menulis dan membaca? Bu Wiwin menyatakan bahwa ketika belajar pun anak seringkali menangis dikarena takut, apakah gejala tersebut muncul ketika di rumah atau di sekolah?

Kalau terjadi di rumah, maka cara Ibu mengajak anak belajar perlu diubah, mungkinkah Ibu cenderung memaksa anak belajar dan metode mengajarnya tidak tepat sehingga anak mengalami kesulitan dan merasa ketakutan? Kalau dibiarkan terus, dikhawatirkan anak mengasosiasikan belajar adalah kegiatan yang tidak menyenangkan dan menakutkan. Apabila di TKnya saat ini sudah banyak diberikan Pekerjaan Rumah, dampingi anak ketika mengerjakan tugas. Apabila cara menulisnya salah, segera perbaiki atau dapat dibantu dengan meminta anak menyambung titik-titik yang berbentuk huruf atau angka.

Perhatikan arah pensil ketika bergerak menyambung titik-titik tersebut, dan perhatikan cara memegang bpensil, apakah sudah tepat? Apabila ingin melatih anak untuk mengenali huruf abjad, lakukan menggunakan permainan-permainan sehingga tidak membosankan. Misalnya, menebak huruI yang dituliskan dengan jari di punggung anak, melompati matras yang mengandung abjad, ibu memberikan instruksi pada anak agar ia melompat ke huruI tertentu.

Atau sebaliknya ketika dia melompat di atas suatu huruf, tanyakan huruf apakah itu? Demikian pula dengan belajar angka, selain menyebutkan angka 1 ke angka 10 secara berurutan, minta anak menebak angka. Selain itu dapat dibantu dengan menyediakan beberapa mainan, minta anak menghitung berapa jumlah mainan yang dia miliki. Pada intinya, Ibu perlu menyisihkan waktu mengajak anak bermain sambil belajar.

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *