Categories
News

Daimler Bangun Pabrik Mobil Listrik di Cina

JAKARTA — Daimler, induk usaha Mercedes-Benz, akan mengembangkan mobil listrik di Cina. Kabar yang dilansir CNBC menyebutkan Daimler akan membuat versi elektrik dari Smart bersama mitra lokalnya. Manajemen Daimler saat ini sedang berdialog dengan Beijing Electric Vehicle atau BJEV, anak usaha BAIC Group. Hal ini menjadi strategi Daimler untuk berbisnis di Cina, lantaran otoritas setempat mewajibkan perusahaan asing yang masuk untuk menggandeng mitra lokal. Kabar ini menandai masuknya Daimler ke bisnis mobil listrik yang diproyeksikan sebagai kendaraan masa depan. Namun belum ada kejelasan mengenai skema kerja sama kedua perusahaan. Manajemen Daimler tutup mulut mengenai rencana ini, demikian pula dengan BAIC. Yang jelas, dua perusahaan ini memiliki sejarah kolaborasi. Daimler memiliki 4 persen saham BJEV pada Maret lalu, setelah mereka mengumumkan rencana ekspansi di segmen mobil listrik. Pada Februari, perusahaan ini juga meneken kesepakatan dengan BAIC guna membangun pabrik senilai US$ 1,9 miliar untuk merek Mercedes-Benz. Smart, merek yang dikembangkan Daimler, dikenal sebagai kendaraan kecil atau microcars. Mobil berkapasitas dua hingga empat penumpang ini sudah dipasarkan di negara besar dan berkembang.

Dengan Smart, Daimler membuktikan bahwa mobil kecil memiliki potensi pasar yang besar, di tengah makin macetnya lalu lintas perkotaan di negara besar dan berkembang. Cina pun menjadi sasaran Daimler lantaran memiliki pasar yang besar. Berdasarkan data dari East Capital, Cina menyumbang 50 persen dari pangsa pasar mobil listrik secara global. Namun pasar kendaraan listrik Cina didominasi oleh perusahaan-perusahaan lokal. Perusahaan asing mencoba peruntungan melalui pembentukan usaha patungan (joint venture) atau strategi lainnya. Tesla, misalnya, akan membangun pabrik di Cina dengan pendanaan dari bank lokal. Pemerintah Cina pun mengincar posisi produsen mobil listrik terbesar di dunia dengan berupaya menguasai pasokan material penting. Menurut Managing Director Benchmark Mineral Intelligence, Simon Moores, Cina hendak menguasai stok litium, yang menjadi bahan baku baterai dan material lain dalam produksi mobil listrik. “Litium adalah bahan baku utama dari 99 persen komponen penggerak kendaraan listrik. Permintaannya akan melonjak di masa mendatang,” kata Moores.

Moores mengatakan, seiring dengan pengembangan industri kendaraan listrik yang makin masif, Cina tengah mengimpor litium dalam jumlah besar dari beberapa produsen. Untuk diketahui, Australia menjadi produsen terbesar mineral langka tersebut dengan volume produksi 14.300 metrik ton pada 2016. Cile, Argentina, dan Cina mengikuti dengan memproduksi 12 ribu, 5.700, dan 2.000 metrik ton litium. Direktur Riset Global X, Jay Jacobs, mengatakan, dengan kekuatan yang mereka miliki, Cina bisa menjadi penguasa pasar kendaraan listrik dunia. “Cina tidak hanya berfokus pada pengembangan manufaktur kendaraan listrik, tapi juga membeli banyak proyek eksploitasi dan pasokan litium dan mendukung pertumbuhan produksi baterai. Dengan cara itu, mereka dapat mengendalikan industri dan rantai pasokan kendaraan listrik,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *